Tuesday, July 4, 2017

Tiga Kepribadian Manusia

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah", mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "Apakah mereka akan mengikuti juga", walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk". (Al-Baqarah 170). 

Pesan taqwa semakin hari akan semakin penting bagi kita, seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi serta peradaban manusia. Tidak ada bosan-bosannya peringatan agar kita senantiasa berada di jalan yang lurus, karena semakin hari semakin bertambah tantangan yang kita hadapi yang dapat mempengaruhi iman dan taqwa kita. 


Inilah antara lain kewajiban bagi pria dewasa melaksanakan shalat Jum 'at, untuk disampaikan kepada keluarga sebagai tanggungiawabnya. Dari informasi Al-Qur'an dan petunjuk hadis Nabi, ada tiga macam kepribadian manusia. 

Pertama, adalah mereka yang tidak meyakini kemampuan dirinya sendiri. Mereka menyianyiakan kemampuan dirinya, sehingga sangat lemah kepribadiannya. Mereka hanya berpegang terhadap tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang dan pendahulunya yang menjadikan mereka tertutup terhadap segala perubahan dan pembaharuan yang mengantarkan prestasi dan kedudukan yang lebih maju sebagai khalifah di bumi. Mereka menolak petunjuk ilmu pengetahuan yang mengarahkannya kepada kemajuan di berbagai segi kehidupan, padahal fungsi manusia diciptakan selain beribadah kepada Allah adalah untuk membangun bumi ini sebagai khalifah Allah. 

Manusia yang hanya berpegang teguh terhadap warisan, tidak mau memanfaatkan potenyi dirinya, baik kemampuan kognitif maupun fisiknya, disitir dalam Al-Qur'an sebagai kelompok yang tidak memiliki kepribadian, sebagaimana ayat 170 surat Al-Baqarah di atas juga dipertegas oleh sebagian ayat 23 surat Az-Zukruf sbb: 

Artinya : 
"Sesungguhnya kami rnendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejakdejak mereka " 

Esensi kelompok pertama ini adalah bersikap menerima dan tidak memanfaatkan kemampuannya untuk mengembangkan diri dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta ketrampilannya dalam melaksanakan tugasnya. 

Kedua, adalah mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang terjadi disekelilingnya, terombang-ambing dalam berbagai suasana dan perubahan. 

Mereka laksana kapuk, kemana angin menghembus, kesitulah mereka terbang. Bila orang banyak berbuat baik mereka ikut berbuat baik, dan bila orang banyak berbuat kesalahan dan keburukan mereka berbuat kesalahan dan keburukan pula. 

Rasulullah dalam hadisnya memberikan peringatan terhadap kelompok kedua ini, beliau bersabda, artinya: "Janganlah ada diantara kamu menjadi orang yang pandir, yaitu orang yang menyatakan jika orang berbuat baik, aku juga berbuat baik. Dan jika orang Iain berbuat buruk, akupun berbuat buruk pula". (Hadis Bukhari-Muslim). 

Kelompok kedua ini tidak kalah tercelanya dari pada kelompok pertama, karena merupakan kelompok manusia yang rapuh dan tidak mempunyai kepribadian yang tangguh, gampang terombang-ambing oleh keadaan, tidak memiliki pendirian yang tegas dan mereka akan tercampakkan kepada ketidak pastian. 

Kelompok seperti ini mudah terjerumus kepada kemunafikan, dan menimbulkan suatu generasi yang pandir serta menjadi bahan cemoohan. Bahkan Allah jauh-jauh sudah mengingatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 14 sbb. 

Artinya : 

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolokolok " 

Generasi pembangunan di masa datang tidak mem butuhkan manusia yang munafik, yakni menyatakan beriman ketika dihadapan orang yang beriman, padahal mereka tetap setia terhadap pemimpin-pemimpinnya, dan pernyataan iman mereka di hadapan orang beriman hanyalah penyesuaian diri belaka.

Kelebihan Manusia Daripada Makhluk Lainnya



Oleh : H. Asy'ari HN 

Artinya : 

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya". (At-Tin ayat 4). 

Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, baik kebahagiaan temporer dunia ini dan kebahagiaan abadi di akhirat nanti. 

Manusia mempunyai kelebihankelebihan di samping kekurangan-kekurangannya. 

Ketikamanusia telah mencapai puncak kepandaian dan status sosialnya, ketika itu pula akan terlihat kekurangan dan kelemahannya. 

Allah menciptakan manusia dilebihkan dari pada ciptaan-ciptaan Allah yang lainnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Tin di atas. 

Kelebihan-kelebihan manusia itu tidak hanya diukur menurut postur tubuh (fisik) manusia saja, akan tetapi kelebihan-kelebihan manusia itu dimaksudkan pemberian Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk makhluk lainnya. 

Misalnya Malaikat, makhluk Allah yang diberikan akal tetapi tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, sehingga amal perbuatan Malaikat tidak mengalami peningkatan dan penurunan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keimanan Malaikat itu stabil. 

Dengan tidak dilengkapinya hawa nafsu pada Malaikat, maka tidak ada kompetisi dalam kehidupan Malaikat. 

Malaikat Jibril misalnya, Odak pernah menyimpang dari job yang telah Allah berikan yakni menyampaikan wahyu Allah. 

Demikian juga Malaikat Malik yang diberi tugas menjaga Neraka, tidak pernah iri terhadap tugas yang diberikan oleh Allah kepada Malaikat Ridwan di Syurga. 

Dengan tidak dikaruniakan hawa nafsu kepada Malaikat, maka pada diri Malaikat tidak ada peningkatan dan penurunan iman dan amal perbuatan. 

Sebaliknya Allah menciptakan hewan tidak dilengkapi dengan akal, tetapi hanya dibekali dengan hawa nafsu. Sehingga semua perbuatannya berdasarkan insting kehewanannya. 

Oleh karena hewan hanya dibekali hawa nafsu, maka dorongan nafsulah yang menguasai dirinya, sehingga hewan tidak kenal peraturan dan undang-undang, asal ada kemauan hewanpun memenuhi kemauannya tanpa memperdulikan norma-norma yang ada. 

Manusia yang tidak mengenal undang-undang, tidak perduli dengan peraturan dan hukum Allah, maka dia bukan manusia, tetapi temasuk dalam kategori hewan, karena manusia di samping dibekali akal juga dibekali hawa nafsu. 

Dua unsur (akal dan nafsu) inilah yang melebihkan derajat manusia dari pada makhlukqnakhluk lainnya. 

Akan tetapi hanya akal fikiran yang diwarnai iman dan Islam yang mampu mengontrol sebelum manusia berbuat. 

"Al-aqlu nurun bihi bainal haqqi wal-bathil", akal yang membedakan antara yang mendatangkan manfaat dan perbuatan yang mendatangkan kerugian. 

Sedangkan hawa nafsu berfungsi meningkatkan amal perbuatan, dan tentunya sebagai seorang muslim harus mempunyai prinsip bahwa setiap peningkatan perbuatan selalu mengarah terhadap perbuatan yang positif dan mendapat ridha Allah . 

Oleh karena itu pada hakekatnya manusia itu mempunyai kecenderungan untuk senantiasa berbuat baik. Dalam hadis qudsi Allah menjelaskan "Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia condong untuk berbuat baik, tetapi datang syaitan menggoda dan menyesatkan mereka dari agama yang mereka anut". 

Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, oleh karena itu sebagai perwujudan rasa syukur dan peningkatan nilai-nilai keimanan, hendaknya selalu memperbanyak amal shalih. 

Dalam surat Al-Hajj ayat 50 diielaskan . 


Artinya : 

"Maka orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia " 

Orang yang beriman dan beramal shalih akan memperoleh ampunan dan rezki dari Allah SWT. 

Manusia adalah makhluk Allah tidak terlepas dari salah dan dosa. Sebagai seorang muslim tidak perlu takut salah, tetapi sebaik-baik seorang muslim ketika dia bersalah cepat menyadari kesalahannya. 

Jika kesalahan dan dosa itu kepada Allah, dia cepat bertaubat, dan jika bersalah terhadap sesama manusia, diapun cepat minta maaf atas kesalahannya. 

Rezki yang mulia yang akan diberikan oleh Allah adalah rezki yang halal dan bersih, yakni rezki yang bersih dari syubhat dan yang haram. 

Rezki Allah adalah segala sesuatu yang kita terima dalarn kehidupan ini. 

Rezki Allah tidak bisa dikalkulasi secara matematis, sebab rezki itu masalah ghaib. 

Rezki Allah bukan lagi urusan bisnis antara sesama manusia yang bisa diperkirakan, sebab rezki Allah sudah diatur. 

Akan tetapi untuk memperoleh rezki itu tentunya dibarengi dengan ikhtiar (usaha), dan setelah berusaha baru kita tawakkal (berserah diri) kepada Allah. 

Oleh karena itu kunci sukses hidup ini adalah selalu ingat kepada Dzat yang mempunyai rezki yakni Allah SWT 

dengan cara semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Dekatnya diri hamba kepada Allah akan memudahkan segala problema hidup tennasuk permasalahan rezki. 

Sebagai seorang muslim ditengah-tengah kesibukannya hendaknya senantiasa mengingat Allah melalui shalat. Allah mengingatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 153 : 



Artinya : 

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta Orang-orang yang sabar "

Friday, June 30, 2017

Anak Itu Amanah Allah

Artinya : 


"Dan perintahkan kepadamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya". (Thaha 132). 

Mungkin sebagian dari jamaah kita juga sudah terlibat dalam menghantarkan anak-anak ke sekolah-sekolah pilihannya. Yang patut direnungkan adalah di dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita hakekatnya merupakan kewajiban utama terhadap anak kita. Anak adalah amanah Allah. Allah memberikan amanah (kepercayaan) kepada kita, bahwa kita dipercaya oleh Allah untuk menghantarkan calon hamba-Nya menjadi hamba yang baik. Kalau posisi anak sebagai amanah, maka anak kita itu bukan milik kita, tetapi milik Allah dan milik dirinya sendiri.


Orang tua yang mendapat amanah (kepercayaan) dari Allah untuk menghantarkan hamba Allah, tunas-tunas muda harapan umat menjadi manusia dewasa, menjadi hamba Allah yang paripurna yang mampu menghidupi dirinya sendiri. 

Dan pada suatu ketika memimpin dan menghidupi keluarganya bahkan tidak mustahil akan memimpin masyarakat, umat, bangsa dan negaranya. Betapa besar kepercayaan Allah kepada kita, oleh karena itu disitulah letak permasalahnya mengapa pendidikan itu tugas utama dari sebagian tugas-tugas kita terhadap anak-anak kita. Allah mengingatkan dalam surat An-Nisa' ayat 9 : 

Artinya : 
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". 

Empat belas tahun mendatang anak-anak kita yang masih duduk di bangku sekolah dasar, akan menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Dan sudah menjadi manusia dewasa. Bisa kita bayangkan apa yang mereka hadapi pada waktu itu disebabkan karena perkembangan globalisasi dan informasi. 

Begitu cepatnya frekuensi perken"angan globalisasi infonnasi, sehingga orang tua dituntut untuk mempersiapkan pendidikan anak-anaknya sesuai pada zamannya. 

Tolak ukur pembekalan terhadap anak-anak kita bukan mempergunakan manusia dewasa sekarang, akan tetapi harus mempergunakan tolok ukur manusia dewasa sepuluh tahun atau lima belas tahun bahkan dua puluh lima tahun yang akan datang. 

Menyekolahkan anak memang sebagian dari pada tugas yang dimintakan kepada pihak Iain untuk membantu mendewasakan anak-anak kita. Dalam arti bahwa pilihan terhadap sekolah itu merupakan tanggungjawab orang tua. 

Sekolah atau lembaga pendidikan mana yang tepat yang bisa menghantarkan anak-anak kita menjadi muslim yang baik untuk zamannya. 

Apalagi pada saat-saat sekarang ini sedang ramai-ramainya bagaimana meningkatkan mutu sumber daya manusia. Oleh karena itu kita harus memperhitungkan bagümana mutu pendidikan itu. Kemudian banyak pendidikan ditawarkan kepada kita, tetapi kita sebagai mukmin sudah mempunyai pedoman, maka langkah utama adalah bagaimana pendidikan itu bisa membantu mengembangkan iman dan taqwa anak kepada Allah. 

Dalam pengertian lain adalah pendidikan yang sejalan menurut visi dan nilai-nilai serta ajaran-ajaran yang kita anut. 

Hal ini sangat penting. Jika kita bayangkan bagaimana perkembangan zaman, semakin derasnya arus globalisasi dan infonnasi sering kali mem buat kaburnya nilai-nilai atau budaya antara satu kelompok dengan kelompok lain dan satu bangsa dengan bangsa lain. 

Jika itu yang kita fikirkan, maka kita sudah memperhitungkan dan tentu akan memilih pilihan yang tepat untuk menyekolahkan anak-anak kita. Selain untuk menjadikan manusia yang tangguh di bidang keimanan dan ketaqwaan yang kuat memegang nilai-nilai ajaran yang kita anut juga mewujudkan anak yang mampu menghadapi hidup sesuai dengan zamannya. 

Juga penting pendidikan-pendidikan yang dapat memberikan berbagai ihnu pengetahuan dan ketrampilan, baik untuk kepentingannya maupun untuk kepentingan umatnya. 

Tidak terbayangkan kalau kita hanya memikirkan kecerdasan, intelek dan terampil, tetapi kita tidak memikirkan bagaimana mengembangkan kepribadian, meninggikan akhlak, dan menguatkan imannya. 

Orang tualah yang akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah jika anak tersebut terombang-ambing oleh zaman yang dialaminya. 

Kita sudah mempunyai pedoman sebagai tolok ukur bagaimana menghantarkan dan menitipkan sebagan pendidikan anak-anak kita kepada lembaga-lembaga pendidikan yang tepat sesuai dengan pandangan hidup kita. Kita berharap melalui pendidikan formal anak kita menjadi hamba Allah yang muttaqin dan anak yang baik (shalih) sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan Nasional, yakni kewajiban setiap pendidikan memberikan pendidikan sesuai dengan agama yang dianut oleh anak didiknya. Juga 

mampu mengangkat potensi anak, sehingga memiliki ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknologi yang cukup pada zamannya. Dengan kata lain, bagaimana dia menjadi "Khalifah Allah" di bumi ini.

Wednesday, June 14, 2017

Misi Hidup Manusia

Artinya : 

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah 21) 

Banyak orang yang kehilangan arah tujuan hidup karena mereka tidak mengetahui apa tujuan hidup mereka yang sebenarnya. Sehingga mereka menjumpai apa yang sebenarnya tidak mereka sukai dan memang bukan tujuan yang mereka inginkan. 

Sebagai umat yang taat kepada Allah harus menyadari akan misi hidup kita di dunia ini. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Ad-Dzaariyaat ayat 56 yaitu: 

Artinya : 
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" 

Menyembah mempunyai konotasi ritus yaitu acara upacara ritual penyembahan yang terkenal dengan ibadah. Ibadah sebenarnya tidak hanya sekedar ritus, tetapi lebih luas dari itu sebab ibadah masih dalam satu akar kata dengan mengabdi. Disinilah kata mengabdi bisa meniabarkan apa yang terkandung di dalam kata ibadah. 





Syeh Muhammad Abduh mendefinisikan ibadah itu ialah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik ucapan maupun perbuatan, yang batin (tidak kélihatan) ataupun yang lahir (kelihatan). 

Dengan demikian ibadah mempunyai arti yang luas seluas kehidupan manusia itu sendiri. Akan tetapi ada batasannya, yakni dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Ibadah Mahdloh dan Ibadah Ghoiru Mahdloh. 

Ibadah Mahdloh adalah ibadah yang sudah ditentukan syariat, cara dan waktu pelaksanaannya oleh Allah SWT. Ibadah Ghoiru Mahdloh adalah ibadah yang tidak ditentukan cara-cara pelaksanaannya oleh Allah SWT. 

Oleh karena itu ibadah tidak hanya shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi datang ke kantor, berdagang, dsb. Sebab mencari nafkah itu tidak hanya diridhoi oleh Allah tetapi justru diperintahkan-Nya. 

Syarat amalan dinilai sebagai ibadah adalah harus diniatkan kepada Allah dan dikerjakan dengan baik dan benar. 

Peranan niat sangat penting dalam pelaksanaan ibadah, sehülgga ketika sampai di Madinah Nabi bersabda "Sesung-guhnya amal perbuatan manusia itu tergantung niatnya dan apa yang diperoEh seseorang itu sesuai dengan niatnya". (Hadis). 

Sebenarnya setiap hari kita selalu mengikrarkan niat "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu Tuhan sekalian alam ". (Do 'a Iftitah). 

Oleh karena itu Nabi menganjurkan setiap bangun pagi hendaklah selalu bersyukur "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami dari kematian kecil dan kepada-Nya kelak kami akan kembali". (Do'a bangun dari tidur). 

Hal ini merupakan peringatan bahwa kehidupan adalah untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT. 

Suatu amal ibadah kadang-kadang tidak untuk Allah semata melainkan untuk pujian orang lain. Oleh karena itu Nabi mengingatkan kepada kita "Suatu kecemasan yang paüng aku takutkan adalah bila terjadi pada diri kamu adanya syirik kecil" (Hadis). 

Misalnya pamer amal demi keuntungan pribadi. Nabi pemah menegaskan tentang pamer ibadah (riya') dengan suatu contoh bahwa ada orang bangkit berdiri melaksanakan shalat dengan khusyuk, tapi hanya karena ingin dipuji orang. Ibadah seperti ini secara lahir (kelihatannya) memang ibadah tetapi ruh atau nilainya tidak ada di hadapan Allah SWT. 

Di samping niat ada ketentuan lain agar amalan kita bernilai ibadah, yakni harus dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar. 

Islam tidak menghalalkan segala cara, membangun masjid misalnya akan hilang nilai ibadahnya manakala biaya yang dipergunakan untuk membangun masjid tersebut dari hasil yang tidak diridhoi oleh Allah, mencuri atau usahausaha lain yang tidak halal. 

Ada dua aspek untuk melengkapi cara yang baik dan benar, yaitu aspek syar'i dan aspek non syar'i. 

Aspek syar'i adalah pelaksanaan syariat agama yang didasarkan atas perintah Allah dan Rasul-Nya. Pelaksanaannyapun sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Misalnya seseorang yang akan mengerjakan shalat harus suci dari hadas. Maka agar suci dari hadas seseorang harus berwudlu atau mandi janabah. Ketentuan tersebut terdapat dalam Al-Qur'an: 

Artinya : 

"Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah (Al-Maidah ayat 6). 

Seseorang yang melaksanakan ibadah tanpa adanya perintah dari Allah atau Rasul-Nya maka termasuk "Bid'ah" yaitu membuat hukum (peraturan) baru di dalam Islam. Hal ini dilarang dalam Islam, sebab Islam sejak semula sudah sempurna, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an: 

Artinya : 

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu". (Al-Maidah ayat 3). 

Setiap tambahan ajaran atau peraturan agama adalah bid'ah, dan setiap bid'ah dalam urusan syariat agama adalah sesat. 

Kemudian aspek non syar'i (hal-hal yang tidak diatur oleh agama), maka kaidahnya adalah: "Dalam urusan agama atau urusan duniawi semua pada umumnya diperbolehkan, kecuah ada dalil yang melarang atau mengharamkannya". 

Oleh karena itu selama tidak ada larangan dalam Al-Qur'an atau Hadits Nabi, maka sesuatu itu diperbolehkan. Kebolehan melaksanakan sesuatu itu dalam Islam disebut 'Mubah". Mubah itu ada dua, yaitu mubah yang berarti "Sunnah", yakni mempunyai nilai kebaikan dan disenangi Allah. Kemudian mubah yang berarti 'Makruh", yakni tidak dirdhoi oleh Allah tetapi tidak sampai kepada tingkat larangan. 

Para Ulama kemudian menyimpulkan hukum makruh ini, yaitu : Siapa yang bisa menghindarkan hukum makruh maka orang itu diberi pahala, tetapi siapa yang mengerjakan tidak berdosa. 

Amalan ukhrawi (agama) bisa menjadi amalan dunia belaka karena salah niatnya. Begitu juga amalan duniawi akan dinilai sebagai ibadah karena niat yang benar. 

Monday, June 5, 2017

Konsep Islam Dalam Menghadapi Kenakalan Remaja


Artinya : 

"Dan orangorang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang orang yang bertakwa (Al-Furqan ayat 74). 

Iman dan takwa itu selalu naik dan turun (up and down). Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa introspeksi dan tafakkur, kemana kita pergunakan umur selama seminggü yang lalu. Kalau kurang baik kita mohon ampunan-Nya dan kalau sudah baik kita berdo'a agar ditetapkan kebaikan itu di hari-hari yang akan datang. 

Di tengah-tengah hangatnya membicarakan peningkatan harkat dan martabat sumber daya manusia, di saat itu pula kita dirisaukan oleh sekelompok remaja nakal yang populer dengan istilah "Kenakalan Remaja". 


Jumlah remaja nakal ini tidak terlalu banyak, tetapi karena ulah mereka mencuat ke permukaan sehingga merisaukan umat. 

Sebetulnya masih banyak remaja-remqja yang baik perbuatannya akan tetapi memang perbuatan jeleklah yang selalu terlihat. 

Bahkan untuk menetralisir kenakalan remaja ini mengundang petugas keamanan ikut turun tangan. 

Tantangan berat bagi kita, bagaimana mengamankan keluarga, dan lingkungan kita dari pengaruh-pengaruh negatif, termasuk pengaruh kenakalan remaja, Hasil dialog dengan anak-anak bermasalah yang dikategorikan anak-anak nakal menghasilkan empat kesimpulan penyebab kenakalan mereka. 

Pertama, kurangnya perhatian dari orang tua. Mereka mendapatkan materi yang cukup, akan tetapi tidak mendapatkan kasih sayang. 

Mereka tergolong anak-anak orang kaya, mobil dan sopirnya disiapkan untuk mereka, berikut uang jajannya, tetapi orang tua mereka tidak menghiraukan perkembangannya. 

Sehingga timbul kekesalan dalam diri mereka. Mereka beranggapan bahwa kelahirannya tidak sengaja, atau lahir secara kebetulan. 

Mereka protes terhadap orang tuanya, bahwa kelahiran mereka hanya karena iseng kedua orang tuanya. Kalau kelahiran mereka atas dasar kesengaiaan, tentunya mereka sem- 

pat mendapatkan perhatian dan belaian kasih sayang dari orang tuanya. 

Kedua, mereka menghadapi masa depan yang suram, Banyak para sarjana yang nganggur, apalagi mereka vang belum jelas status sosialnya. Ketiga, terbawa oleh teman-temannya yang memang sudah rusak. 

Keempat, ingin diperhatikan sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat. Anak adalah masa depan orang tua, masa depan agama, bangsa, dan negara. Kepada merekalah nanti estafet pembangunan kita serahkan. 

Akan tetapi kalau kondisi anak-anak kita memprihatinkan, lalu bagairnana mereka harus memegang estafet pembangunan di negeri ini. Anak merupakan produk dan buah dari kasih sayang orang tua, yang lahir dalam keadaan suci. 

Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya, bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Kedua orang tuanyalah yang akan membentuk, apakah dijadikan Yahudi Nasrani atau Majusi. 

Peranan orang tua sangat menentukan dalam Pembentukan perkembangan anak-anak mereka. 

Ada delapan langkah untuk membentuk anak menjadi anak yang berkwalitas (shalih dan shalihah). 

Pertama, sejak dini anak harus diajak untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya. Jangan menunggu besar untuk memasukkan nilai-nilai keislaman dalam dirinya. Bahkan menurut konsep Islam ketika ovum dan sperma bertemu hendaknya didahului dengan nafas keislaman yang diwujudkan dalam bentuk do 'a. 

Kalau sejak dini sudah ditanamkan nilai-nilai keislaman pada diri anak, maka ketika dewasa ia akan mampu menyeleksi mana yang baik dan mana yang buruk dalam lingkungan pergaulannya. 

Dekatkan anak kepada AIQur'an, shalat dan akhlaqul karimah melalui tauladan orang tua. Banyak anak yang mengalami kontradiksi batin akibat dari perbuatan orang tuanya, misalnya seorang ibu hanya berani membangunkan si anak untuk shalat subuh, tetapi tidak berani mem bangunkan ayahnya. 

Kedua, anak harus diajak untuk patuh dan hormat kepada orang tua atau walinya. Untuk mendidik anak agar patuh dan hormat kepada orang tuanya. maka orang tua harus bersikap bijaksana danberwibawa di hadapan anak-anaknya. 

Hendaknya orang tua tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan menunjukkan perilaku yang tidak sopan kepada siapapun di hadapan anaknya, sebab ucapan dan tingkah laku orang tua akan diteladani si anak. 

Ketiga, patuh dan hormat kepada pemimpin, baik 'Ulama maupun Umara'. Pemimpin harus satu kata dengan perbuatan, apalagi di ibukota negara ini, pelaksanaan pemerintahan berada di depan mata anak-anak. Hendaknya kita bersih, berwibawa dan jujur. 

Sebagai 'Ulama, ketika memberikan fatwa hendaknya tetap berpegang terhadap hukum-hukum Allah, jangan terkesan di hadapan anak-anak bahwa fatwa Ulama hanya pesän sponsor, 

Keempat, patuh dan hormat kepada guru. Lisan guru hendaknya tetap berwibawa di depan murid-muridnya. Kalau lisan guru sudah tidak berpengaruh lagi, terjadilah seperti saat ini, murid sudah berani melawan gurunya. Tekankan pada diri anak, jangan melihat guru dari status sosialnya, tetapi lihatlah jasa seorang guru. 

Kelima, Ajaklah anak untuk rajin belajar, sebab dalam mencapai sesuatu hal itu tidak bisa dicapai hanya dengan san tai. 

Keenam, mengisi waktu luang anak dengan efektif. Pandai-pandailah mengisi waktu Iibur, kalau tidak, akan menjadi bumerang. Ketujuh, menyeleksi teman pergaulan anak. Dan terakhir, hindarkan anak dari segi-segi negatif lingkungannya. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkem bangan jiwa anak.